Kembali ke Beranda

A.R. Sutan Mansur: Guru Agama Bung Karno, dan Pilar Besar Muhammadiyah dari Ranah Minang

26 January 2026
50 views
A.R. Sutan Mansur: Guru Agama Bung Karno, dan Pilar Besar Muhammadiyah dari Ranah Minang
Nama Ahmad Rasyid Sutan Mansur atau yang akrab disapa Buya Tuo mungkin tidak sepopuler tokoh nasional lain dalam buku sejarah arus utama. Namun bagi Muhammadiyah dan perjalanan intelektual bangsa Indonesia, ia adalah figur sentral yang meletakkan fondasi ideologis, keilmuan, dan moral persyarikatan. Ulama kharismatik asal Minangkabau ini bukan hanya pemimpin agama, tetapi juga pendidik bangsa, penasihat negara, serta guru spiritual Presiden Soekarno.

Awal Kehidupan: Dari Maninjau hingga Surau Jembatan Besi
Ahmad Rasyid Sutan Mansur lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 15 Desember 1895. Sejak muda, ia dikenal sebagai santri cerdas dan berkarakter kuat. Ia menimba ilmu langsung dari Haji Rasul, ayah dari Buya Hamka, di Surau Jembatan Besi, Padang Panjang. Dari lingkungan inilah benih pemikiran Islam modern, rasional, dan antikolonial tertanam kuat dalam dirinya.

Menariknya, Sutan Mansur pernah menolak beasiswa pemerintah kolonial Belanda. Keputusan ini mencerminkan sikap independen dan perlawanan halus terhadap penjajahan, sekaligus menunjukkan komitmennya untuk memperdalam Islam tanpa kompromi dengan kepentingan kolonial.

Bergabung dengan Muhammadiyah di Pekalongan
Tahun 1921 menjadi titik balik penting. Dalam perantauannya ke Pekalongan, Sutan Mansur berdagang batik sambil aktif berdakwah. Di kota inilah ia bertemu langsung dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Pemikiran progresif KH Ahmad Dahlan, khususnya tafsir Surah Al-Ma’un yang menekankan Islam sebagai gerakan sosial dan pembebasan kaum lemah, sangat membekas di hatinya. Sejak saat itu, Sutan Mansur memantapkan diri menjadi kader Muhammadiyah dan kelak tumbuh sebagai salah satu pemimpin terbesarnya.

“Bintang Barat” dan Arsitek Khitah Palembang
Dalam sejarah Muhammadiyah, Sutan Mansur dikenal sebagai “Bintang Barat”, sejajar dengan KH Mas Mansur yang dijuluki “Bintang Timur”. Ia mencatat sejarah sebagai orang Sumatera pertama yang menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada periode 1953–1959.

Kontribusi terpentingnya adalah perumusan Khitah Palembang, sebuah dokumen ideologis yang hingga kini menjadi rujukan arah gerakan Muhammadiyah. Khitah ini menegaskan tiga pilar utama:

  • Pemurnian Tauhid sebagai dasar spiritual dan moral gerakan
  • Penguatan Keilmuan dan Pendidikan sebagai sarana kemajuan umat
  • Sikap Independen terhadap Politik, di mana Muhammadiyah tetap berdakwah tanpa menjadi alat kekuasaan, namun aktif memberi panduan etis bagi negara
Khitah Palembang inilah yang menjaga Muhammadiyah tetap kokoh, adaptif, dan relevan lintas zaman.

Guru Agama Bung Karno di Bengkulu
Salah satu sisi paling menarik dari kehidupan A.R. Sutan Mansur adalah hubungannya dengan Soekarno. Saat Bung Karno diasingkan Belanda ke Bengkulu (1938), Sutan Mansur menjadi guru agama sekaligus penasihat spiritualnya.

Hubungan mereka bukan sekadar formal. Kepercayaan Soekarno begitu besar hingga Sutan Mansur menjadi saksi pernikahan Bung Karno dengan Fatmawati, yang kelak menjadi Ibu Negara pertama Republik Indonesia.

Jenderal Tituler yang Tetap Merdeka Berpikir
Pasca-kemerdekaan, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan pangkat Kolonel Tituler kepada Sutan Mansur sebagai penasihat agama TNI Komandemen Sumatera. Meski dekat dengan pusat kekuasaan, ia tetap menjaga jarak kritis.

Bahkan, ia pernah menolak gaji dari Presiden Soekarno, demi menjaga independensi moral dan kebebasan mengkritik kebijakan negara yang dianggap menyimpang dari nilai Islam dan keadilan sosial.

Perintis Pendidikan dan Cikal Bakal UMJ
Di bidang pendidikan, peran Sutan Mansur tak kalah monumental. Ia menggagas berdirinya Fakultas Hukum dan Falsafah di Padang Panjang, yang kemudian dikembangkan di Jakarta dan menjadi embrio Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Hingga usia senja, ia tetap aktif sebagai guru besar, membina kader-kader muda Muhammadiyah dengan penekanan pada makna jihad intelektual, tauhid murni, dan etika sosial Islam.

Wafatnya Sang Murabbi Bangsa
A.R. Sutan Mansur wafat pada 25 Maret 1985, dalam usia 89 tahun. Ribuan pelayat mengiringi kepergiannya di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Tokoh nasional lintas generasi, mulai dari Menteri Agama hingga Mohammad Natsir, hadir memberi penghormatan terakhir.

Hingga akhir hayatnya, rumah sederhana Buya Tuo di Tanah Abang tak pernah sepi dari tamu. Ia menyambut siapa saja—tokoh negara maupun rakyat biasa—untuk berdiskusi, menimba ilmu, dan mencari keteduhan batin.

Penutup
A.R. Sutan Mansur adalah contoh nyata ulama yang teguh dalam prinsip, luas dalam ilmu, dan merdeka dalam berpikir. Ia bukan hanya milik Muhammadiyah, tetapi juga bagian penting dari sejarah intelektual dan moral bangsa Indonesia.

Sumber : Wikipedia

Produk Terbaru

Bunga Bougenville Import Jepang Mini Pekanbaru
Bunga Bougenville Import Jepang Mini Pekanbaru

Rp 40.000

TokoRiau Official
Kota Pekanbaru
Bunga Bougenville Import Variegeta Daun Belang Pekanbaru
Bunga Bougenville Import Variegeta Daun Belang Pekanbaru

Rp 55.000

TokoRiau Official
Kota Pekanbaru
Bunga Bougenville Import Red Briza Pekanbaru
Bunga Bougenville Import Red Briza Pekanbaru

Rp 445.000

TokoRiau Official
Kota Pekanbaru
Bunga Bougenville Import Id Ekor Musang Pekanbaru
Bunga Bougenville Import Id Ekor Musang Pekanbaru

Rp 245.000

TokoRiau Official
Kota Pekanbaru